Artikel Kimia Tentang Hidrokarbon

Sabtu, 20 September 20140 komentar

udah lama nih ngga posting :3, sekarang ane mau posting dulu ah biar ngga terlalu berdebu bloga ane nya hehe .. 
monggo di simak Artikel Kimia Tentang Hidrokarbonnya :)




HIDROKARBON
A.    Kekhasan Atom Karbon
1.     Atom karbon dapat membentuk 4 ikatan kovalen
Atom karbon memiliki nomor atom 6, di dalam system periodik terletak pada golongan IV A periode 2 sesuai dengan konfigurasinya       :   2   4   atau   1   2     
Berdasarkan konfigurasi  tersebut, atom karbon memiliki  4 elektron valensi, sehingga masih membutuhkan 4 elektron lagi untuk mencapai kestabilan atau memenuhi kaidah oktet. Oleh karena itu atom karbon dapat membentuk 4 ikatan kovalen dengan atom-atom lainnya.
2.     Atom karbon memiliki ukuran yang relatif kecil
Sesuai dengan konfigurasi pada penjelasan di atas, atom karbon hanya memiliki 2 kulit atom sehingga jari-jari atom karbon relative kecil, hal ini menyebabkan ikatan kovalen yang terbentuk relative kuat dan karbon dapat membentuk iktan rangkap  2 atau rangkap 3
3.     Atom karbon dapat membentuk rantai karbon yang panjang
Atom karbon dapat membentuk ikatan  dengan rantai lurus , bercabang atau melingkar dan dapat mencapai rantai yang sangat panjang.
Berdasarkan jumlah atom yang di ikatnya, atom karbon dibedakan atas
a.        Atom C primer                 = yaitu atom C yang berikatan dengan 1 atom C lainnya
b.       Atom C sekunder            = yaitu atom C yang berikatan dengan 2 atom C lainnya
c.        Atom C tersier                 = yaitu atom C yang berikatan dengan 3 atom C lainnya
d.       Atom C kuartener           = yaitu atom C yang berikatan dengan 4 atom C lainnya

 
Contoh  : 





B.     Senyawa Hidrokarbon
Senyawa hidrokarbon adalah senyawa yang hanya terdiri dari atom hidrogen dan atom karbon. Senyawa ini dikenal pula dengan senyawa karbon, senyawa karbon terdiri atas senyawa organik dan anorganik. Perbedaan senyawa karbon organik dan anorganik adalah  sebagai berikut :
Senyawa karbon organik
Senyawa karbon anorganik
1.      Berasal dari makhluk hidup dan dapat pula di sintesis di laboratorium
2.      Struktur molekul dari yang sederhana sampai yang kompleks
3.      Ikatan antar atom merupakan ikatan kovalen
4.      Memiliki isomer
5.      Titik didih dan titik leleh rendah
6.      Sebagian besar tidak larut dalam air dan lebih mudah larut dalam pelarut non polar
7.      Larutan dan lelehannya tidak menghantarkan listrik
8.      Jika dibakar sempurna menghasilkan CO2 dan H2O
9.      Reaksi –reaksi yang terjadi berjalan sangat lambat kecuali reaksi pembakaran
1.     Berasal dari batuan dan mineral
2.     Struktur molekul sederhana
3.     Ikatan antar atom merupakan ikatan ion atau kovalen
4.     Tidak memiliki isomer
5.     Titik didih dan titik leleh tinggi
6.     Sebagian besar larut dalam air
7.     Larutan dan lelehannya menghantarkan listrik
8.     Jika dibakar sempurna tidak menghasilkan CO2 dan H2O
9.     Reaksi –reaksi yang terjadi berjalan cepat

Atom-atom karbon dalam senyawa hidrokarbon dapat membentuk ikatan rantai lurus, bercabang atau melingkar , dengan ikatan kovalen tunggal atau rangkap, secara ringkas pembagiannya adalah  :
1.       Senyawa hidrokarbon jenuh dan tak jenuh
a.     Senyawa hidrokarbon jenuh = senyawa hidrokarbon yang semua atom C dalam senyawanya berikatan kovalen tunggal.  Contoh  :                                                                        
      Pentana
                 2-metil pentana                                        
b.     Senyawa hidrokarbon tak jenuh = senyawa hidrokarbon yang atom C dalam senyawanya ada yang berikatan kovalen rangkap 2 atau rangkap 3.  Contoh  : 
                                                
                                                Pentena                                                 Pentuna                                                                                 Benzena


2.       Senyawa hidrokarbon alifatik, alisiklik dan aromatik
a.        Senyawa hidrokarbon alifatik = Senyawa hidrokarbon dengan rantai terbuka.  Contoh  :
 

2-metil pentana                                                                    Pentena                                                 Pentuna
b.       Senyawa hidrokarbon alisiklik = senyawa hidrokarbon dengan rantai tertutup. Contoh  :













 





      Siklopentana                             Siklopentena                         siklopropena
c.        Senyawa hidrokarbon aromatic = senyawa hidrokarbon rantai tertutup dengan ikatan kovalen tunggal dan ikatan kovalen rangkap 2 yang berselang seling.                                Benzena



3.       Alkana, Alkena dan Alkuna
A.    Alkana
1)    Rumus umum :  CnH2n + 2   dengan n = menunjukkan jumlah atom C
                         Alkana adalah senyawa hidrokarbon dengan semua atom C nya berikatan kovalen tunggal
2)    Deret homolog = senyawa dengan rumus umum sama dan sifat yang bermiripan.
3)    Tatanama alkana
      Penamaan alkana diberikan berdasarkan jumlah atom C dalam senyawanya dengan akhiran – ana ;
Jumlah atom C
Rumus Molekul
Rumus struktur
Nama
1
CH4
CH4
Metana
2
C2H6
CH3 – CH3
Etana
3
C3H8
CH3 – CH2 – CH3
Propana
4
C4H10
CH3 – CH2 – CH2 – CH3
Butana
5
C5H12
CH3 – CH2 – CH2 – CH2 – CH3
Pentana
6
C6H14
CH3 – CH2 – CH2 – CH2 – CH2 – CH3
Heksana
7
C7H16
CH3 – CH2 – CH2 – CH2 – CH2 – CH2 – CH3
Heptana
8
C8H18
CH3 – CH2 – CH2 – CH2 – CH2 – CH2 – CH2 – CH3
Oktana
9
C9H20
CH3 – CH2 – CH2 – CH2 – CH2 – CH2 – CH2 – CH2 – CH3
Nonana
10
C10H22
CH3 – CH2 – CH2 – CH2 – CH2 – CH2 – CH2 – CH2 – CH2 – CH3
Dekana
     
Aturan penamaan senyawa alkana;
a.     Untuk alkana dengan rantai lurus penamaan diberikan nama normal dengan disingkat n – alkana
b.     Untuk alkana dengan rantai bercabang, terdiri dari dua bagian yaitu;
·      Bagian pertama adalah nama cabang (gugus alkil)
Gugus alkil adalah gugus alkana yang sudah kehilangan satu atom H, penamaannya seperti penamaan alkana yaitu sesuai dengan jumlah atom C – nya, hanya saja akhiran – ana diganti dengan akhiran  – il , contoh : metana jadi metil, etana jadi etil, propana jadi propil, butana jadi butil, pentana jadi pentil/amil, dst.
·      Bagian kedua adalah nama rantai induk
c.     Rantai induk adalah rantai terpanjang dengan jumlah cabang terbanyak
d.     Atom C pada rantai induk diberi nomor dimulai dari atom C ujung yang paling dekat ke cabang
e.     Bila terdapat lebih dari satu cabang sejenis , maka cukup disebut satu kali saja dengan diberi awalan yang menyatakan jumlah cabang, yaitu;
2 = di                      5 = penta               8 = okta
3 = tri                      6 = heksa               9 = nona
4 = tetra                 7 = hepta               10 = deka
f.      Bila terdapat lebih dari satu jenis cabang, maka nama cabang tersebut ditulis berurutan sesuai dengan abjad awal dari nama cabang, misal etil ditulis terlebih dahulu daripada metil.
g.     Nama senyawa alkana adalah  nomor atom C cabang + nama gugus alkil (cabang) + nama alkana
Nama alkil dapat diberi awalan iso – jika memiliki struktur :











 



                                Isopropil                                                                                     isobutil                                              isoheksil
                                Yakni terdapat cabang pada atom C ke – 2 
                   Contoh  :                                                                                            
                                                                                                                               


                               

                                                8 – etil  2,6 – dimetil 4 – isopropil  dekana                                                                    
4)    Keisomeran alkana
Isomer adalah senyawa dengan rumus kimia sama namun rumus struktur dan sifatnya berbeda .
Ada 4 jenis isomer dalam senyawa karbon, yaitu:
1.       Isomer rangka = isomer ini terjadi karena perbedaan kerangka atom-atom C
2.       Isomer posisi = isomer ini terjadi karena perbedaan letak (posisi) gugus tertentu misalnya gugus fungsi (alcohol, keton, eter dan ester) atau ikatan rangkap.
3.       Isomer fungsi = senyawa dengan rumus molekul sama tetapi gugus fungsinya berbeda. Senyawa karbon yang memiliki isomer fungsi adalah :
·         Golongan alcohol (R – OH) berisomer fungsi dengan eter (R – O – R)
·         Golongan aldehid                                 berisomer dengan eter








 
·         Golongan asam karboksilat                                  berisomer dengan ester
·         Golongan alkena berisomer dengan sikloalkana.
4.       Isomer geometri  =  terjadi karena perbedaan arah gugus-gugus tertentu pada senyawa yang memiliki rumus molekul sama.
Ada dua jenis isomer geometri , yaitu isomer cis – trans dan isomer optic. Isomer cis – trans berlaku untuk senyawa karbon yang memiliki ikatan rangkap 2 dan pada C yang berikatan rangkap harus mengikat dua gugus yang atom lain yang berbeda. Ini berarti berlaku untuk golongan alkena.
Isomer optic berlaku untuk senyawa yang memiliki atom C asimetris (kiral) yaitu atom C yang mengikat 4 gugus atom yang berbeda.
Contoh  :             



                            
                             Cis – 2 pentena                                                    Trans – 2 pentena
             ( posisi gugus yang sama bersejajar) (posisi gugus yang sama bersebrangan)








 










                                                                          D – Glukosa                                       L – Glukosa                     
                                                                                                      (isomer optik)
                                                                                               
                                Senyawa alkana hanya memiliki isomer rangka saja, contoh : pentana dengan rumus kimia C5H12
                                                                                                Berisomer rangka dengan
                                                Pentana                                                
                                                (C5H12)                                                                                                         2 – metil butana  (C5H12)
                                                                Rumus kimia sama tetapi rumus struktur rangkanya berbeda

5)    Sifat Senyawa Alkana
a.       Sifat fisik
v Senyawa alkana empat suku pertama C – 1 sampai C – 4 pada suhu kamar berwujud gas. Dari suku C – 5 sampai C – 16 berwujud cair dan lebih dari C – 16 ke atas berwujud padat
v Titik didih dan titik leleh makin tinggi seiring bertambahnya Mr atau makin panjangnya rantai C
v Suku-suku yang berwujud gas (CH4 – C4H10)  berbau dan mudah menguap, suku menengah
 (C5H12 – C7H16) berbau bensin dan sedikit mudah menguap, dan suku tinggi (C18H38 - ….) sedikit berbau paraffin dan tidak mudah menguap.
b.       Sifat kimia
v Sukar bereaksi dengan senyawa lain, bahkan sukar larut dalam air
v Pada pembakaran  sempurna senyawa alkana menghasilkan  gas CO2 dan H2O
v Mengalami reaksi substitusi ( pergantian) atom H jika direaksikan dengan unsure-unsur halogen (F2, Cl2 , Br2 dan I2)
CH4   +   Cl2                      CH3Cl    +    HCl
v Mengalami reaksi sulfonasi (penggantian sebuah atom H dengan radikal sulfonat (SO3H )), ini terjadi pada pereaksian asam sulfat dengan senyawa alkana suku menengah dan tinggi.
C6H14     +     H2SO4                           C6H15 – SO3H    +    H2O
v Senyawa alkana yang memiliki C tersier akan dioksidasi oleh asam nitrat menjadi suatu asam dengan jumlah atom C sedikit dan CO2
+    HNO3                   CH3 – CH2 – COOH    +  CO2

            
v Mengalami cracking (perengkahan) yakni pemutusan senyawa alkana rantai panjang menjadi senyawa alkana rantai pendek dan senyawa alkena.
C14H30                           C7H16           +        C7H14
Tetradekana               heptana               heptena









B.    ALKENA
1)       Rumus umum :  CnH2n  dengan n = menunjukkan jumlah atom C
                         Alkena adalah senyawa hidrokarbon yang mengandung ikatan kovalen rangkap dua
2)      Deret homolog = senyawa dengan rumus umum sama dan sifat yang bermiripan.
3)      Tatanama alkena
      Penamaan alkena diberikan berdasarkan jumlah atom C dalam senyawanya dengan akhiran – ena ;
Jumlah atom C
Rumus Molekul
Rumus struktur
Nama
1
C2H4
CH2 = CH2
Etena
2
C3H6
CH2 = CH – CH3
1 – Propena
3
C4H8
CH2 = CH – CH2 – CH3
1 – Butena
4
C5H10
CH2 = CH – CH2 – CH2 – CH3
1 – Pentena
5
C6H12
CH2 = CH – CH2 – CH2 – CH2 – CH3
1 – Heksena
6
C7H14
CH2 = CH – CH2 – CH2 – CH2 – CH2 – CH3
1 – Heptena
7
C8H16
CH2 = CH – CH2 – CH2 – CH2 – CH2 – CH2 – CH3
1 – Oktena
8
C9H18
CH2 = CH – CH2 – CH2 – CH2 – CH2 – CH2 – CH2 – CH3
1 – Nonena
9
C10H20
CH2 = CH – CH2 – CH2 – CH2 – CH2 – CH2 – CH2 – CH2 – CH3
1 – Dekena
Jika dalam suatu rantai hidrokarbon alkena terdapat lebih dari satu ikatan rangkap dua, maka namanya sesuai dengan jumlah atom C nya dengan di ikuti awalan yang menyatakan jumlah ikatan rangkap dua – nya , yaitu ;
2 = di                      5 = penta               8 = okta
3 = tri                      6 = heksa               9 = nona
4 = tetra                 7 = hepta               10 = deka
Contoh  :   CH2 = CH – CH = CH – CH3   1,3 – pentadiena

Aturan penamaan senyawa alkena;
a.     Untuk alkena dengan rantai lurus penamaan diberikan sesuai dengan jumlah atom C nya yaitu n – alkena (n=letak ikatan rangkap)
b.    Untuk alkena dengan rantai bercabang, terdiri dari dua bagian yaitu;
·      Bagian pertama adalah nama cabang (gugus alkil)
Gugus alkil adalah gugus alkana yang sudah kehilangan satu atom H, penamaannya seperti penamaan alkana yaitu sesuai dengan jumlah atom C – nya, hanya saja akhiran – ana diganti dengan akhiran  – il , contoh : metana jadi metil, etana jadi etil, propana jadi propil, butana jadi butil, pentana jadi pentil/amil, dst.
·      Bagian kedua adalah nama rantai induk
c.     Rantai induk adalah rantai terpanjang dengan jumlah cabang terbanyak dan mengandung ikatan rangkap dua
d.     Atom C pada rantai induk diberi nomor dimulai dari atom C ujung yang paling dekat ke ikatan rangkap dua
e.     Bila terdapat lebih dari satu cabang sejenis , maka cukup disebut satu kali saja dengan diberi awalan yang menyatakan jumlah cabang, yaitu;
2 = di                      5 = penta               8 = okta
3 = tri                      6 = heksa               9 = nona
4 = tetra                 7 = hepta               10 = deka
f.      Bila terdapat lebih dari satu jenis cabang, maka nama cabang tersebut ditulis berurutan sesuai dengan abjad awal dari nama cabang, misal etil ditulis terlebih dahulu daripada metil.
g.     Nama senyawa alkena adalah  nomor atom C cabang + nama gugus alkil (cabang) + nomor atom C ikatan rangkap 2 + nama alkena
Nama alkil dapat diberi awalan iso – jika memiliki struktur :











 



                                Isopropil                                                                                     isobutil                                              isoheksil
                                Yakni terdapat cabang pada atom C ke – 2 
                   Contoh  :                                                                                            
                                                                                                                               


                               


                                                8 – etil  2,6 – dimetil 4 – isopropil  1 – dekena             
                                                               
4)    Keisomeran alkena
Isomer adalah senyawa dengan rumus kimia sama namun rumus struktur dan sifatnya berbeda .
Senyawa alkena memiliki isomer rangka, isomer posisi dan isomer geomeri cis – trans ;
v  Isomer rangka
CH2 = CH – CH2 – CH2 – CH3       berisomer rangka dengan     CH2 = C – CH– CH3
          1 – Pentena   (C5H10)                                                                                              
                                                                                                                              CH3       2 – metil   1 – butena  (C5H10)
v  Isomer posisi
                                    CH2 = CH – CH2 – CH2 – CH3       berisomer posisi dengan       CH2 – CH = CH – CH2 – CH3      
1 – pentena                                                                                 2 – pentena



v  Isomer cis – trans
              



                            
                             Cis – 2 pentena                                                    Trans – 2 pentena

5)    Sifat Senyawa Alkena
a.       Sifat fisik
v Senyawa alkena tiga suku pertama C – 1 sampai C – 3 pada suhu kamar berwujud gas.  suku menengah berwujud cair yang tidak larut dalam air dan suku tinggi berwujud padat
v Titik didih dan titik leleh makin tinggi seiring bertambahnya Mr atau makin panjangnya rantai C
b.       Sifat kimia
v Pada pembakaran  sempurna senyawa alkena menghasilkan  gas CO2 dan H2O
v Alkena suku rendah mudah terbakar, pada pembakaran tidak sempurna senyawa alkena menghasilkan jelaga lebih banyak dibandingkan senyawa alkana
v Mengalami reaksi adisi (penjenuhan ikatan rangkap = penambahan) menjadi ikatan kovalen tunggal
CH2 = CH2   +   H2                      CH3 – CH3   (adisi hidrogenasi)
CH2 = CH2   +   Cl2                      CH2Cl – CH2Cl   (adisi halogenasi : misal adisi klorinasi)
CH2 = CH – CH2    +   HCl                      CH3 – CH ­– CH3    (adisi halogen hidrida  :  misal adisi HCl )


 
                                                                          Cl              
v Mengalami reaksi polimerisasi
Yaitu beberapa molekul alkena rantai pendek bergabung mmbentuk molekul baru yang lebih besar dan kompleks
CH2 = CH2     +     CH2 = CH2                           n – CH2 – CH2 – CH2 – CH2 – n  
Etena                    Etena                                               Polietena
v Jika alkena di alirkan ke dalam larutan KMnO4 alkalis, maka terbentuk alkanol bervalensi dua, reaksi ini disebut reaksi Bayer ;
CH3 – CH = CH – CH3    +   KMnO4                CH3 – CH – CH  – CH3






 
                                                                                    OH     OH  

C.    ALKUNA
1)       Rumus umum :  CnH2n - 1  dengan n = menunjukkan jumlah atom C
                         Alkuna adalah senyawa hidrokarbon yang mengandung ikatan kovalen rangkap tiga
2)      Deret homolog = senyawa dengan rumus umum sama dan sifat yang bermiripan.
3)      Tatanama alkuna
      Penamaan alkena diberikan berdasarkan jumlah atom C dalam senyawanya dengan akhiran – una ;
Jumlah atom C
Rumus Molekul
Rumus struktur
Nama
1
C2H2
CH Ξ CH
Etuna
2
C3H4
CH Ξ C – CH3
1 – Propuna
3
C4H6
CH Ξ C – CH2 – CH3
1 – Butuna
4
C58
CH Ξ C – CH2 – CH2 – CH3
1 – Pentuna
5
C6H10
CH Ξ C – CH2 – CH2 – CH2 – CH3
1 – Heksuna
6
C7H12
CH Ξ C – CH2 – CH2 – CH2 – CH2 – CH3
1 – Heptuna
7
C8H14
CH Ξ C – CH2 – CH2 – CH2 – CH2 – CH2 – CH3
1 – Oktuna
8
C9H16
CH Ξ C – CH2 – CH2 – CH2 – CH2 – CH2 – CH2 – CH3
1 – Nonuna
9
C10H18
CH Ξ C – CH2 – CH2 – CH2 – CH2 – CH2 – CH2 – CH2 – CH3
1 – Dekuna
Jika dalam suatu rantai hidrokarbon alkuna terdapat lebih dari satu ikatan rangkap tiga, maka namanya sesuai dengan jumlah atom C nya dengan di ikuti awalan yang menyatakan jumlah ikatan rangkap dua – nya , yaitu ;
2 = di                      5 = penta               8 = okta
3 = tri                      6 = heksa               9 = nona
4 = tetra                 7 = hepta               10 = deka
Contoh  :   CH2 Ξ CH – CH Ξ CH – CH3   1,3 – pentadiuna

Aturan penamaan senyawa alkuna;
a.     Untuk alkuna dengan rantai lurus penamaan diberikan nama sesuai dengan jumlah atom C nya yaitu n – alkuna (n = letak ikatan rangkap)
b.    Untuk alkuna dengan rantai bercabang, terdiri dari dua bagian yaitu;
·      Bagian pertama adalah nama cabang (gugus alkil)
Gugus alkil adalah gugus alkana yang sudah kehilangan satu atom H, penamaannya seperti penamaan alkana yaitu sesuai dengan jumlah atom C – nya, hanya saja akhiran – ana diganti dengan akhiran  – il , contoh : metana jadi metil, etana jadi etil, propana jadi propil, butana jadi butil, pentana jadi pentil/amil, dst.
·      Bagian kedua adalah nama rantai induk

c.     Rantai induk adalah rantai terpanjang dengan jumlah cabang terbanyak dan mengandung ikatan rangkap tiga
d.     Atom C pada rantai induk diberi nomor dimulai dari atom C ujung yang paling dekat ke ikatan rangkap tiga
e.     Bila terdapat lebih dari satu cabang sejenis , maka cukup disebut satu kali saja dengan diberi awalan yang menyatakan jumlah cabang, yaitu;
2 = di                      5 = penta               8 = okta
3 = tri                      6 = heksa               9 = nona
4 = tetra                 7 = hepta               10 = deka
f.      Bila terdapat lebih dari satu jenis cabang, maka nama cabang tersebut ditulis berurutan sesuai dengan abjad awal dari nama cabang, misal etil ditulis terlebih dahulu daripada metil.
g.     Nama senyawa alkena adalah  nomor atom C cabang + nama gugus alkil (cabang) + nomor atom C ikatan rangkap 3 + nama alkuna
Nama alkil dapat diberi awalan iso – jika memiliki struktur :











 



                                Isopropil                                                                                     isobutil                                              isoheksil
                                Yakni terdapat cabang pada atom C ke – 2 
                   Contoh  :                                                                                            
                                                                                                                               


                               

8         – etil  2,6 – dimetil 4 – isopropil  1 – dekuna                        

4)          Keisomeran alkuna
Isomer adalah senyawa dengan rumus kimia sama namun rumus struktur dan sifatnya berbeda .
Senyawa alkuna memiliki isomer rangka, dan isomer posisi;
v  Isomer rangka
CH Ξ C – CH2 – CH2 – CH3       berisomer rangka dengan     CH2 Ξ C – CH– CH3
          1 – Pentuna   (C5H8)                                                                                               
                                                                                                                                CH3     3 – metil   1 – butuna  (C5H8)

v  Isomer posisi
                                    CH2 Ξ CH – CH2 – CH2 – CH3       berisomer posisi dengan       CH2 – CH Ξ  CH – CH2 – CH3      
                                                1– pentuna                                                                                   2 – pentuna


5)          Sifat Senyawa Alkuna
a.          Sifat fisik
v Senyawa alkuna tiga suku pertama C – 1 sampai C – 3 pada suhu kamar berwujud gas.  suku menengah berwujud cair yang tidak larut dalam air dan suku tinggi berwujud padat
v Titik didih dan titik leleh makin tinggi seiring bertambahnya Mr atau makin panjangnya rantai C
b.          Sifat kimia
v Pada pembakaran  sempurna senyawa alkuna menghasilkan  gas CO2 dan H2O
v Reaksi-reaksi pada senyawa alkuna mirip dengan senyawa alkena. Untuk penjenuhan ikatan rangkapnya senyawa alkuna membutuhkan peraksi dua kali lebih banyak dibandingkan alkena
CH Ξ CH   +  2H2                      CH3 – CH3   (adisi hidrogenasi)
 CH Ξ CH   +  2 Cl2                      CHCl2 – CHCl2   (adisi halogenasi : misal adisi klorinasi)
Share this article :

Poskan Komentar

Pengikut

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Yulpan Blog - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger